Laman

Sabtu, 14 Maret 2015

Petrichor part 2




Kemarin sore, di Pontianak hujan. Hujan sangat deras, saya yang sudah menggunakan jas hujan saja masih basah. Basah kuyup sekali. Tapi cerita saya kali ini bukan-tentang-saya-yang-kehujanan hehe.masih tentang kehujanan dan kejadian sore itu tapi ini yang menarik hati saya  *Tssaaahh :)

Begini ceritanya…
Saya yang sudah kehujanan kuyup waktu itu tidak memilih untuk berhenti, karena bagi saya hujan adalah suatu suasana yang termanis karena ketika hujan saja kita bisa menghirup Petrichor. Biasanya moment hujan, entah itu gerimis,hujan deras atau bahkan hujan badai sekalipun tetap membawa suasana hati kita menjadi rada galau hahaa. (udah serius,masih aja bercanda -_-)

Nah ketika itu saya terjebak macet, bisa dibayangkan Macet? Hujan deras?Wah,jangan di bayangkan.pasti semakin galau. Ketika itu mata saya melihat dua orang anak manusia (?) yang masih menggunakan seragam sekolah di atas motor Yam*h* (sepertinya sebab mata saya rabun :D) kedua anak ini terlihat tidak galau, saya ga habis pikir hujan deras itu mereka happy sekali, Oke lebih detailnya yang menggunakan seragam SMA laki-laki dan yang menggunakan seragam SD laki-laki juga. Saya perkirakan mereka abang-adek. Bukan itu yang menjadi perhatian saya. Bukan tentang seragam mereka juga.
Yang menarik perhatian saya adalah mereka tidak menggunakan jas hujan, dan Helm besar sang anak lelaki SMA itu diberikan  ke anak lelaki SD.. Ya anak kecil yang masih bercelana pendek. Dengan riang gembira anak lelaki SD memakai helm besar itu dan berlindung dibalik tubuh anak lelaki SMA sambil memeluk Tas anak lelaki SMA agar tidak kehujanan. Mereka menikmati air hujan, sambil anak lelaki SD membentangkan tangan lalu memeluk tas anak SMA lagi. begitulah, sesekali tertawa seakan-akan saya mendengar mereka berteriak “Hello Hujan”. Mungkin karena mereka gembira. Atau mungkin juga karena mereka sudah terlanjur basah kuyup.entahlah. hahahaa.

Tapi moment itu sangat menginspirasi saya, Alhamdulillah.Allah memberikan pelajaran untuk saya melalui kedua anak itu adalah bahwa setiap kita bisa menciptakan kebahagiaan untuk kita sendiri, entah bagaimanapun caranya.Kita juga bisa bersyukur melewati hari dengan cara kita sendiri. hanya kita yang tau. dan setiap kita bisa saling menjaga. dalam keadaan apapun kita bisa menjaga saudara kita. entah bagaimanapun caranya. Bahagia itu sederhana. Sesederhana menikmati butir-butir air hujan. Itu saja.

“katanya cinta memang banyak bentuknya…..Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu, terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia kuharap kau tau bahwa ku terinspirasi hatimu” (Raisa, Jatuh hati)

2 komentar:

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)