karena jiwa tidak akan
pernah menang,dalam semua kecamuk perang. Kecuali setelah ia menang dalam
pertempuran rasa, pertarungan akhlaq dan pergulatan manhaj”
(Sayyid Quthb, fi
Zhilaalil Qur’an)
Suatu hari aku
menemui teman seperjuangan dulu ketika di organisasi, kita berdiskusi di bawah
pohon
“jadi sibuk apa
sekarang?”
“ga sibuk
apa-apa,tik. Cuma berasa beda aja” jawabnya agak menunduk
“beda? Apanya? ”
“iya tik, aku malu
mau diskusi setelah bertahun2 didakwah kok
aku baru ngerasa sekarang ya?”
“udah males?Bosan dengan permasalahan yg itu itu aja? Atau klise dimana2 yg
sekarang sering terjadi, kah?”
“ga juga, rasa
kekurangan ilmu…” jawabnya menggantung
Kemudian setelah
percakapan ga jelas itu, kami saling
diam dalam waktu yang lama.saling berpikir. Kami tahu pikiran kami udah beda. Aku sekarang di pihak A. dia dipihak B. bisa disimpulkan kami
udah ga sejalan.
Ada masanya kita
bergandeng tangan saling menguatkan, dan ada masanya kita berjarak saling mendo’akan.
“Ya Allah izinkan kami
untuk gelisah
Jika itulah yang bermanfaat
Maka buatlah kami berhenti
dititik itu
Di situ saja.
Dengan mengesakaanMu dalam
harap
Karena kami makin tahu
Berharap pada manusia,
Pada sosok maupun kelompok
atau menggantungkan diri padaa mereka
adalaah luka bagi iman kami
Jugaa kekecewaan yang
kadang bertubi “
(Gelisah, Dalam dekapan
ukhuwah.Salim A fillah hal 331)