Assalamu’alaykum. Hai guys. Ada satu hal yang sampe sekarang belum bisa saya penuhi yaitu janji mau review drama korea DOTS (Descendants Of The Sun) maafkeun saya. Hari-hari saya sekarang super sibuk di sekolah. Hehe. Menjadi seorang guru adalah cita-cita terbesar dalam hidup saya bagaimana mungkin seorang manusia mengabdi tanpa tanda jasa, di gugu dan di tiru oleh manusia lain yang disebut murid. Rasanya tuh indah sekali π Oke fix ini bukan dramaπ
Oh iya pengalaman menjadi “ustadzah” di sekolah itu sensasinya beda banget karena dulunya saya hanya mengajar privat dan bimbel yang muridnya ga banyak. Tapi di sekolah, hmmm.. muridnya buanyaaak. Pelajaran yang saya ajarkan di Spataz (SMPIT al mumtaz) adalah Ilmu Pengetahuan Sosial, sebagai anak IPS sejak lahir *ngaco haha ga deng* sejak SMA saya anak sosial yang mempelajari Sejarah, Geografi, Sosiologi dan Ekonomi dan ketika Kuliah pun saya ambil ke Prodi Pendidikan Sejarah. Viva Historia. Yeay! π tapi ya gitu hal tersulit yang sampe sekarang belum bisa saya taklukan adalah pelajaran geografi T_T pernah nih ketemu materi kelas 8 yang rumit banget! sebelum saya mengajar rasanya stress, pusing kepala, mual-mual, sakit perut. Terus terang ada beberapa materi pelajaran geografi yang rumit dan selalu berhasil bikin saya nangis hehe lebay sih ya. Tapi ya gitu namanya pengabdian susah senangnya mengajar dan nano-nano perasaan tetap aja harus dijalani. Sesampainya di kelas kekhawatiran dan rasa takut hilang juga ketika melihat mereka belajar. Gitu kali ya guru-guru kita dulu.
Menjadi guru itu perlu ilmu dan panggilan jiwa. Sama hal nya kayak jadi dokter, perawat, bidan. Yang harus rela ga tidur hanya karena pasien yang sakit. Kalo perawat salah suntik atau kasi obat pasti sang pasien jadi tambah sakit. Demikianlah, Jadi guru juga begitu bayangkan kalo kita nih sebagai guru ga ada panggilan jiwa bagaimana bisa kita mengajar anak-anak orang lain yang bukan darah daging atau keluarga kita. Bagaimana bisa kita ngasi ilmu ke orang lain kalo ga dengan “panggilan jiwa” tadi. Ga akan barokah. Pasti setiap mengajar bawaannya mau marah dan ilmunya ga nyampe ke murid-muridnya. Menjadi guru harus tahu ilmunya, bukan hanya mengajar loh tapi juga mendidik.
Akhir-akhir ini diberita banyak sekali kasusnya guru dianiaya, dipenjarakan dll. Sedih. Rasanya tuh sedih dan miris. Memang kita ketahui bahwa mengajar dengan kekerasan itu ga ada dalam kamusnya guru, tapi pertanyaannya apa iya si murid udah jadi murid teladan, patuh dan pintar? Saya rasa guru ga sembarangan kasi hukuman ke murid yang demikian, dan ga mungkin guru memberikan hukuman kepada murid yang baik-baik saja. Ayolah para orang tua lebih cerdas dalam mendidik anak, memberikan kasih sayang dan perhatian sehingga ketika sang anak melakukan kesalahan bukan berarti harus dibela pun tidak ditelantarkan tetapi dibicarakan baik-baik dengan sang guru atau pihak sekolah agar sang anak tidak bersikap demikian. Jadi ada sikap saling percaya, orang tua mempercayakan ke guru, guru mendidik dan mengajar anaknya. Begitulah seharusnya.
Semoga dengan berjalannya waktu dan diisi dengan pengalaman-pengalaman dan mendengarkan sharing dari para guru-guru senior, saya bisa lebih mantap dan semangat dalam misi mulia ini yaitu Mendidik dan mengajar. Pada kenyataannya kita pun sebagai guru punya tugas mendidik, dididik, dan terdidik agar bisa menjalankan tugas dengan ikhlas dan rendah hati.
“Teach by heart, learn by mind salah satu jargon Sang Bintang school”Semangat Mendidik, cerdaskan Bangsa!
π
Ruang istirahat mengajar,Pontianak 16 agustus 2016
