Laman

Jumat, 30 Oktober 2015

Harapan yang masih ada

Bissmillah.
Assalamu’alaykum.
Hai. Selamat kembali menikmati tulisan saya di rumah mungil, diblog ini (seperti ada yang membaca saja :D). Hari ini mau cerita Alhamdulillah saya sudah menjalani beberapa proses menjelang kelulusan saya dari kampus. Dulu sempat hampir hopeless, apa iya bisa terselesaikan? Bersyukur punya orang-orang terdekat yang selalu support dan mendoakan. Jujur, untuk bisa bertahan sampai detik ini pun rasanya memang sedikit mustahil. Tapi bagaimanapun saya kenyataannya,  tetap saja doa-doa mama, papa, adik-adik, sahabat dan seluruh orang yang mengenal saya itu terus dan tetap terbang ke langitkan? Jadi bagaimana bisa saya mengecewakan mereka.
Ada beberapa yang bertanya kemana saya selama ini? Mengapa menghilang? No, I’m okay and I’m here.
Saya disini ada sedang menguatkan diri sendiri.  Berjalan menyusuri kampus seorang diri, tanpa teman. Mencatat beberapa bahan ke perpustakaan, mencari buku dan referensi, membaca tugas akhir teman-teman saya di perpus kampus. Saya memang suka begini, melakukan sendiri. hehe
Bukan untuk menghilang.
Saya tipe orang yang fokus mengerjakan sesuatu makanya saya sedang belajar sambil menempa diri untuk bisa menghandle dan mengurus sesuatu yang banyak agar kedepannya saya bisa belajar mengurus sesuatu dalam waktu bersamaan.

Mama selalu bilang “yang penting kuliah diselesaikan, mau kerja apa aja terserah”
Papa pun begitu selalu mengatakan hal yang sama “kalo sudah selesai mengerjakan apa-apa pun enak”.

Tapi saya yang sangat tergoda dengan hal-hal yang berjudul “mendapatkan uang sendiri” itulah akhirnya memang benar dapat uang iya, kelulusan tertunda beberapa moment saya-hanya-menjadi-orang-yang-mengahadiri-undangan-wisuda.
Pada akhirnya banyak sekali hikmah yang saya dapatkan dari proses ini, yang pada intinya saya hanya berserah kepada Allah bahwa apapun usaha saya tanpa keridhoan Allah semua tidak akan berjalan lancar. Apapun itu. Memperbaiki diri, memperbaharui niat saya.
Berakhir dengan indah seperti selayaknya skenario yang sudah Allah tetapkan untuk saya, saya hanya harus lebih,lebih dan lebih sedikit bersabar. Semua akan berakhir indah.
Hehe…

Curhat yang panjang ya.

Pontianak, 30 Oktober 2015

Jumat, 16 Oktober 2015

Sewajarnya saja

Aku heran pada mereka yang seringkali menyakiti diri sendiri, meresahkan takdir hidup yang sebenarnya itu bukan hal yang sepatutnya di keluhkan berulang-ulang. Mungkin diriku sendiri juga demikian.
Jika saja kita sedikit bersabar, bahwa akan ada hari yang indah di ujung perjalanan hidup. kita akan menemukan makna dibalik ujian-ujian itu. Berkata memang mudah tapi menjalaninya yang sulit, kan? tapi apakah dengan begitu kita bisa tetap baik-baik saja? tidak kan? itulah sebabnya mengapa kita tidak bisa bahagia, mengapa kita tidak bisa menikmati hari-hari dengan kegembiraan mungkin karena kita kurang bersyukur. menepuk dada sendiri. sombongnya :'(
kurang bersyukur. jika saja kita bisa merasakan betapa sulitnya mereka yang hidup mengais-ngais rejeki, sulit makan, sulit tidur memikirkan hutang-hutang. tidak ada tempat nyaman untuk beribadah, atau hal-hal lainnya. mungkin kita sudah mati berdiri. 
lalu pertanyaannya apa yang mau kita sombongkan? apa yang mau kita keluhkan? sampai-sampai kita berputus asa. baru dikasih Allah ujian sedikit, kita menangis, mengutuk diri, seolah-olah dunia akan berakhir dengan masalah yang kita hadapi. seolah-olah kitalah manusia paling menyedihkan. Padahal di luar sana banyak yang lebih menderita dibanding kita, bahkan yang sedang berjuang mati-matian untuk hidup pun ada. lalu mengapa kita merasa paling menderita dengan ujian ini?
jadi hidup sewajarnya saja, jangan terlalu bergembira pun jangan terlalu menyedihkan. sewajarnya saja dan terus bersyukur.

Senin, 05 Oktober 2015

Tidak mudah


Ternyata tidak mudah untuk melupakan sesuatu yang terus menerus dilakukan diwaktu silam. Aku bahkan beberapa waktu ini sering tertawa-sendiri-mengingatnya. Mengingat kejadian-kejadian bodoh, yang kadangkala itu hanya kumpulan kenangan yang terus-menerus diingat, disimpulkan dan akhirnya dikubur dalam-dalam. Pernah, suatu hari aku bertemu dengan orang-orang yang berada dan berperan dalam cerita, lebih tepatnya kumpulan cerita kenangan diwaktu silam-ku. Dan apa yang kuperbuat? Aku hanya bisa mengamati orang-orang itu. Mengamati satu-persatu dari mereka, mencoba menebak apakah mereka seperti aku? Aku yang sering teringat-ingat mereka. Mengamati mereka dari jauh. Sayangnya, aku tidak bisa menegur, beramah-tamah, menanyakan kabar. Aku tidak bisa. Aku tidak bisa melakukan itu. Mengamati-menjadi kebiasaan atau bisa juga aku sebut itu ritual karena dengan begitu aku akan bisa berkata di dalam hati bahwa tanpa aku mereka baik-baik saja. Bahwa yang paling terpenting walau tidak bisa melakukan apa-apa seperti diwaktu silampun aku tetap bisa mengamati orang-orang itu kan? Aku tetap bisa menerbangkan doa-doa untuk mereka kan? walau tidak bisa menjejakkan sejarah bersama orang-orang itu lagi aku tetap bisa menyimpan kejadian-kejadian yang pernah terlewati bersama. Dengan begitu, aku tidak perlu khawatir lagi, walaupun tetap tidak mudah melupakan sesuatu yang terus menerus dilakukan diwaktu silam. Tetap tidak mudah, setidaknya-bagiku.