Laman

Minggu, 27 Maret 2016

Temu




Kau tahu perasaan dingin. Dingin menyayat itu seperti apa?
Pertemuan yang dibungkus dengan skenario penuh liku.  Aku Membisu, sekali lagi bertemu tanpa kabar dan aku hanya bisa me-reka tiap pertemuan tak sengaja.  Bagaimana rasanya bertemu dan menebak perasaan orang lain? Jangan tanyakan itu. Itu sungguh sulit, apatah lagi dengan kondisi pertemuan yang tiap kali sama. Tanpa tatap dan kata-kata, Datar. Kamu pun tak bisa membaca isi kepala orang kan? Hari ini kita mungkin telah dipertemukan entah keberapa kalinya oleh skenario indah- Nya..Memangnya aku bisa apa dari pertemuan ini?  Bahagia? Tidak. Sedih? Tidak juga.
Karena aku cukup tahu diri bahwa kadangkala pertemuan itu bukan berarti mempersatukan jarak. Bisa jadi hanya menyembuhkan rindu yang telah lama menyesak didada. Itu mungkin rejeki dari Tuhan atas kesabaran selama ini. Aku bahkan sudah menyugesti diriku sendiri agar jangan menumbuhkan harapan terlalu tinggi, karena aku pun tak mau menyuburkan bunga-bunga yang kutanam sendiri disini. Dihatiku.
Tapi biarpun alur ceritanya begitu tetap sebuah keberuntungan-setidaknya untukku.
Ah, kita kadang lupa bahwa ada yang menuliskan skenario indah ini di Langit sana. Tuhan tahu mana yang terbaik untuk kita.
Kalau ada yang bertanya, sudah siap kah dengan tangan yang menepuk-nepuk udara? Sudah siapkah dengan berita-berita angin yang akan sampai mungkin sebentar lagi? Memangnya aku bisa apa?
Sejujurnya, aku belum siap jika itu terjadi. Jika Tuhan berkehendak lain. Bahwa ternyata semua ini hanya mimpi-mimpi ku belaka.

Aku hanya bisa pasrah, tak ada lagi yang bisa aku usahakan selain berpasrah dan minta kekuatan dari Tuhan. Hanya itu. Jika itu terjadi bahwa ternyata pertemuan itu adalah harapan-harapan yang ku tulis sendiri. Dengan sadar dan ketulusan ini aku ingin berterima kasih,
Terima kasih telah menghadiahiku sebuah pertemuan
Tuhan sentiasa bersamamu..

Pontianak, Ruang mimpi 27 Maret 2016

Sabtu, 19 Maret 2016

Percayalah.



Dua bulan saya berada di kampung halaman, satu hal yang paling saya senangi ketika pulang kampung adalah berada di rumah. Rumah menjadi tempat ternyaman setelah mungkin bertahun-tahun mengembara ilmu. Karena rumah menjadi alasan kita untuk pulang, sejauh apapun kita pergi. Di sudut manapun rumah selalu punya cerita tersendiri, tentang masa kecil, tentang kenakalan, tentang cerita-cerita yang telah dilalui. Banyak sekali. Saya bahkan sangat senang dulu sering sekali teman-teman memanggil saya “anak rumahan” konsep panggilan itu tidak ada yang salah. Pun bukan berarti anak rumahan adalah mereka yang kolot, bodoh dan penakut dengan hidup. Itu yang saya tidak setuju. Sama sekali tidak. Rumah sudah menjadi tempat favorit selain perpustakaan. Saya bukan kutu buku, tapi berada di perpustakaan juga saya merasa seperti rumah. Saya seakan-akan bisa meng-imajinasikan setiap bacaan dengan mood saya. Entahlah saya menemukan cara itu dimana. Tergila-gilanya saya dengan perpus waktu duduk di kelas 2 SMP, saya seperti menemukan tempat lain di Bumi ini selain rumah. Lucu dan menggelikan kalau diingat-ingat, begitulah.
Tentang kepulangan dua bulan itu, Hanya kepulangan biasa setelah diwisuda, itu mungkin yang special. Karena banyak yang mengira saya akan menikah. Saya tak bisa menjawab, dan akhirnya saya harus melakukan semacam klarifikasi. Demikianlah. Tulisan ini pun saya tuliskan untuk memperkuat berita yang tidak benar diluar sana. Tapi, siapalah saya? Membuat klarifikasi berlebihan seperti ini :) mungkin lebih tepatnya membuat hati saya sendiri agar lebih tenang. Tidak akan banyak yang saya sampaikan, point pentingnya saya belum melakukan apapun di kampung halaman saya, murni hanya liburan. Memang ini semacam rahasia yang harus saya bongkar, hehe. Orang tua saya memang sering sekali berpesan untuk selalu membicarakan terlebih dahulu jika ada yang ingin datang kerumah. Jadi mana mungkin saya melakukan hal ini secara sembunyi kepada orang tua saya. Jadi, jangan khawatir. Insya allah, allah tahu mana yang terbaik untuk hamba-hambanya. Percaya saja.


Selamat Malam..
@My room, Pontianak 1903’15