Laman

Rabu, 25 Maret 2015

kita (akhirnya) teman

Assalamu’alaykum,
Hari ini saya sedikit teringat-ingat dengan 2 orang teman saya, sebenarnya saya punya banyak teman tapi tidak (terlalu) akrab mungkin karena saya yang berpikir bahwa ada teman yang hanya cukup dijadikan teman, ada juga teman yang bisa lebih dijadikan teman.  Bukan berarti memilih-milih, Ya teman yang lebih ini maksudnya kita bisa tiba-tiba bercerita banyak hal dengan dia tanpa harus jadi orang lain. Edisi kali ini ga terlalu mellow dan ga mendramatisir. hehee

tentang dayang, kita kenal disemester awal perkuliahan, ingat sekali  diberanda masjid ilham kita ketemu pertama kali untuk bergabung di fkmi dan akhirnya menjadikan kami berteman akrab. Sosok yang keibuan dan kalem kata sebagian teman kita hampir setipe, di fkmi (sekarang LDK) kamipun tidak pernah dipertemukan dalam satu bidang, tapi tetap bisa menjadi teman baik.Dari dia sangat banyak pelajaran yang didapat, bagaimana menjadi perempuan yang baik, bagaimana bekerja keras,bagaimana perempuan itu harus bisa memasak dan pelajaran hidup lainnya yang bisa dengan mudah saya dapatkan dari dia. Dengan dia saya bisa tiba-tiba banyak bercerita apapun, mudah bagi saya yang sebenarnya introvert ini untuk ngedumel ke dayang, kita bahkan seringkali berdebat hal-hal ga penting, benar-benar aneh tapi lucu.Pernah ada satu kejadian Lucu yang kita alami, menghadiri sebuah kajian bahasa arab disebuah ma’had ntah mendapatkan undangan dari mana yang mengantarkan kami kesana, benar-benar kejadian tercanggung. Di kajian itu pengisinya seorang Ustadz dari luar negeri dari Yaman yang mengoceh dengan bahasa arab fasih kemudian jamaah yang (mungkin) paham tanpa terjemahan pula mengangguk-anggukkan kepala mereka,sedangkan kami yang waktu itu baru kuliah tingkat 2 hanya terdiam sesekali saling menoleh, bertatapan, ingin keluar majelis tapi malu akhirnya sepanjang kajian kami hanya terpaku. Tapi kami mendapat teman-teman baru yang imut, adik-adik SDIT yang memanggil kami ammah. Benar-benar tak terlupakan.

Tentang Yuliani, hampir sama perkenalan dengan yuli pun diawal semester tapi dengan tempat yang berbeda. Kita hampir tidak pernah “ngobrol asik” karena saya dan yuli punya teman-teman yang berbeda. Waktu dikampus pun kami jarang sekali bercerita banyak hal, satu hal yang saya ketahui dari yuli adalah dia Tangguh!  Akhirnya Allah benar-benar mempertemukan kami dalam satu amanah. Waktu itu kami masuk semester tujuh dan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan disekolah) saya dan dia diamanahkan di DPM-REMA (dewan perwakilan mahasiswa) yuli yang waktu itu sebagai kepala komisi C dan saya staf komisi A. memang kami tidak dalam satu bidang tapi sejak saat itu kita sering menghabiskan waktu bersama. Dari dia saya banyak belajar tentang arti keberanian, bagaimana seorang perempuan harus bisa menunjukkan kemampuan dan jati diri sebagai agent of change. Suatu hari sehabis kita rapat membahas undang-undang PMB yang saya agak lupa tepatnya ketika itu masuk sms “tika, kayaknye kmi(yuli) mau keluar” disitu saya baru menyadari bahwa peran seorang teman adalah bukan hanya ada disaaat ketawa ketiwi. Tapi peran seorang teman menjadi pembackup disaat rapuh. Saya yang memang jarang (mampu) berbicara banyak didepan orang hanya bisa menyampaikan semangat kepada yuli. Dan kami yang hanya berdua akhwat waktu itu saling menguatkan walaupun kerja di DPM ga keliatan tidak seperti teman-teman di BEM tapi bagi saya yang lahir di ranah da’awi banyak sekali mendapatkan banyak pelajaran. Kejadian disaat itu terulang waktu saya (mendadak) menjadi co acara fsldkn di syura akbar pertama kali saya sudah keringat dingin dipojokan masjid IAIN dan yuli menenangkan saya,mengajarkan saya sepatah dua patah kata untuk disampaikan ke khalayak ramai, ya benar saja ketika waktu penyampaian tiba yang diajarkan dan yang disampaikan ga ada yang sesuai denga latihan sempat ngeWhatssup yuli “yuli, tika ga bisa yul” jawaban yuli “bisa, tika bisa!” karena tempat duduk seorang co dan staf berbeda saya menoleh keatas tepat yuli duduk tampak dia mengepalkan tangan kanan sambil dengan mimik wajah “semangat tika bisa” Kejadian yang tak terlupakan.

Dari dua orang yang berbeda karakter ini saya banyak  belajar, saya juga banyak bercerita bahkan ada yang “rahasia” , dan mereka berdua menginspirasi saya. semoga kita bisa bertemu lagi dan berteman sampai ke Surga.aamiin.  Jazakillah, Uhibbuki fillah :)

foto diambil saat reuni ikhwah ikip angkatan 2009 yuli(atas) dayang(tengah) dan saya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)