Laman

Minggu, 29 Maret 2015

Sebuah peristiwa usang

Mengapa rasanya baru kemarin ya kita sama-sama...
sama-sama mempersiapkan diri untuk Ospek
sama-sama mengenakan almamater
sama-sama mengerjakan tugas-tugas kuliah
sama-sama terlambat kuliah
sama-sama...

Mengapa rasanya baru kemarin ya kita sama-sama...
sama-sama mempersiapkan diri untuk MOS
sama-sama mengenakan seragam putih abu-abu
sama-sama Les
sama-sama mengerjakan PR

Mengapa rasanya baru kemarin ya kita sama-sama...
sama-sama mempersiapkan diri untuk MOS
sama-sama mengenakan seragam putih biru
sama-sama kerja kelompok
.....
Mengapa rasanya baru kemarin ya kita sama-sama
sama-sama mengenakan seragam putih merah...
sama-sama bersepeda

Mengapa rasanya baru kemarin ya kita sama-sama..
sama-sama mengenakan seragam warna-warni kekanakan...

Mengapa rasanya baru kemarin ya?
tidak. itu sudah terlewati.
ah...ternyata sudah terlewati.
aku bahkan ingin mengulanginya satu kali lagi.
boleh tidak? mengulangi untuk melihatnya lagi.
membuka lembar-lembar Album foto ini.

Bukan...maksudku membuka lembar-lembar cerita kita didalam buku ini...

Jumat, 27 Maret 2015

Proses Menggenapkan



*Nada hp tanda sms berbunyi*
"tik, cek whatssup"
"oke kakak"
seorang kakak yang tempo hari saya tanya-tanyain *sungkem kakak sholeha :)
pertanyaan saya yang tidak terlalu penting lah, tapi menjanggal pikiran.
----
Mendapati pesan panjang dan lebar yang membuat kening saya mengernyit menandakan bahwa saya sedang dilanda kebingungan. ada sesuatu yang membuat saya heran dan bertanya-tanya mengapa "Proses" itu sangat rumit? dan mengapa harus ada "Proses" itu? daaaan kenapa dalam "Proses" itu masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain yang akan terjadi? kenapa coba???
---
Suatu ketika ada seorang ukhti, beliau yang saya kenal ini seorang penghafal quran dan sholeha. yang akan menikah dalam beberapa waktu lagi. Tetapi tidak jadi. karena dibatalkan oleh pihak lelaki pada saat dalam proses ta'aruf. beliau bercerita tentang prosesnya, menurut saya tidak ada kekurangan apapun pada ukhti ini.
pertanyaan saya kenapa bisa? 
"Ya karena Allah sang maha pembolak balik hati, dek" jawabnya waktu itu yang membuat saya terheran-heran luar biasa. mungkin sama apa yang dirasa ukhti tersebut pun.
 Lalu ukhti tersebut melanjutkan ceritanya,
"dia merasa tidak pantas mendapatkan kakak, dek. dia bilang ilmunya masih kerdil jadi dia memutuskan tidak untuk meneruskan proses ini, dan sulit jika meneruskan hidup bersama kakak"
"dia menyampaikan itu?" tanya saya penasaran
Saya yang waktu itu hanya bisa menarik napas panjang.dilanda keheningan. 

Ayolah, Apa sebenarnya yang ada didalam pikiran seseorang (mungkin) yang disebut-Ikhwan-memutuskan calon mempelai wanita sholeha ? hanya karena sang ikhwan (mungkin) merasa minder? Pertanyaan ini tercetus dalam pikiran saya yang memang belum paham hingga sekarang kenapa harus ada penolakan sepihak ini.
Salahnya dimana?
jika Sholeha menurut versi seorang ikhwan adalah cerdas, hafal quran, hafal hadits. lalu apa yang salah dengan ukhti ini?

Salahnya dimana? 

dan akhirnya ukhti ini mendapatkan jawaban dari seorang ustadz yang menjadi perantaranya. Bahwa ada beberapa kriteria Fisik yang tidak masuk dalam kriteria sang ikhwan yang katanya -mencari-wanita-sholeha-itu. 

Bagaimana coba? Pasti kau bisa membayangkan seberapa perih hati ukhti tersebut. Yang pada kenyataanya –ikhwan- tersebut hanya tak mampu menyampaikan bahwa bukan karena ia tak sepadan dan bukan karena ukhti ini tak sholeha kan?
Tapi karena kriteria”cantik” menurut versi ikhwan tersebut yang menjadikan dia tak bisa meneruskan Proses itu. 
Saya masih terperangah…
Teringat suatu ayat yang memesona:
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang.baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Jika Kecantikan fisik menjadi standarisasinya, itu mungkin hal yang -biasa- tapi yang tidak bisa saya tangkap adalah rasa rasanya mengapa pula Cantik fisik disandingkan dengan Keshalihaan seseorang? Pertanyaan saya sebenarnya yang sebenarnya dicari apa? cantik nya? Atau sebenarnya nafsu dunia?
Ah, manusia selalu saja begitu kan?
-----
Berhentilah mengkaitkan keshalihan dan kecantikan fisik yang -walaupun- itu adalah FITRAH manusia. Berhentilah.
Shalihah itu mempunyai tempat tersendiri menurut saya, cantik adalah nilai Plus Plusnya.Jika ia shalihah,kecantikan akan menghiasinya. Jika proses ini proses mengenali “calon” melalui cara ini adalah pilihan maka bukankah kau harus siap dengan setiap manis-asam-asinnya? 

Berhentilah mengkaitkannya, padahal masih banyak orang yang tak paham dengan proses ini dan memilih untuk “berpacaran” yang membuang waktu dan tenaga, yang hanya menghabiskan kemanisan lajang, membiarkan mata –yang-bukan-mahram menjamah jamah bak kue dagangan ibu-ibu dipasar? 
 Berhentilah saya mohon, berhentilah menggalaukan nafsu keduniawiaan. 
 
Tapi, jika Peristiwa menggenapkan ini sangat penting untuk menjalani hidup dialam dunia ini.
maka, Luruskanlah niat. 
Menikah itu kan perkara untuk bahagia. Kebahagiaan mencapai Surga Allah bersama yang kau nikahi.

Pernikahan itu kan penyatuaan 2 keluarga besar, bukan hanya penyatuan hati kedua orang saja. Pernikahan itu kan ketika berpeluh keringat mencari nafkah, dan kau ingat ada orang yang tadinya –bukan-siapa-siapamu- harus kau tanggung juga hidupnya.Pernikahan itu kan yang kau tadinya tak biasa Memasak, mencium, merasai aroma bumbu-bumbu tapi kau harus menjalaninya. Dan kau ingat ada orang yang-tadinya-bukan siapa-siapamu- harus kau masaki. Pernikahan itu kan ? Bagi perempuan, belajar menjadi Menantu,menjadi kakak ipar atau adik ipar,menjadi istri,menjadi ibu dan menjadi wanita yang baik.
------
Dan semua proses itu hanya satu tujuannya mengharap keridhaan Allah. Pemilik segala sesuatu. Pemilik hati-hati kita.


Rabu, 25 Maret 2015

kita (akhirnya) teman

Assalamu’alaykum,
Hari ini saya sedikit teringat-ingat dengan 2 orang teman saya, sebenarnya saya punya banyak teman tapi tidak (terlalu) akrab mungkin karena saya yang berpikir bahwa ada teman yang hanya cukup dijadikan teman, ada juga teman yang bisa lebih dijadikan teman.  Bukan berarti memilih-milih, Ya teman yang lebih ini maksudnya kita bisa tiba-tiba bercerita banyak hal dengan dia tanpa harus jadi orang lain. Edisi kali ini ga terlalu mellow dan ga mendramatisir. hehee

tentang dayang, kita kenal disemester awal perkuliahan, ingat sekali  diberanda masjid ilham kita ketemu pertama kali untuk bergabung di fkmi dan akhirnya menjadikan kami berteman akrab. Sosok yang keibuan dan kalem kata sebagian teman kita hampir setipe, di fkmi (sekarang LDK) kamipun tidak pernah dipertemukan dalam satu bidang, tapi tetap bisa menjadi teman baik.Dari dia sangat banyak pelajaran yang didapat, bagaimana menjadi perempuan yang baik, bagaimana bekerja keras,bagaimana perempuan itu harus bisa memasak dan pelajaran hidup lainnya yang bisa dengan mudah saya dapatkan dari dia. Dengan dia saya bisa tiba-tiba banyak bercerita apapun, mudah bagi saya yang sebenarnya introvert ini untuk ngedumel ke dayang, kita bahkan seringkali berdebat hal-hal ga penting, benar-benar aneh tapi lucu.Pernah ada satu kejadian Lucu yang kita alami, menghadiri sebuah kajian bahasa arab disebuah ma’had ntah mendapatkan undangan dari mana yang mengantarkan kami kesana, benar-benar kejadian tercanggung. Di kajian itu pengisinya seorang Ustadz dari luar negeri dari Yaman yang mengoceh dengan bahasa arab fasih kemudian jamaah yang (mungkin) paham tanpa terjemahan pula mengangguk-anggukkan kepala mereka,sedangkan kami yang waktu itu baru kuliah tingkat 2 hanya terdiam sesekali saling menoleh, bertatapan, ingin keluar majelis tapi malu akhirnya sepanjang kajian kami hanya terpaku. Tapi kami mendapat teman-teman baru yang imut, adik-adik SDIT yang memanggil kami ammah. Benar-benar tak terlupakan.

Tentang Yuliani, hampir sama perkenalan dengan yuli pun diawal semester tapi dengan tempat yang berbeda. Kita hampir tidak pernah “ngobrol asik” karena saya dan yuli punya teman-teman yang berbeda. Waktu dikampus pun kami jarang sekali bercerita banyak hal, satu hal yang saya ketahui dari yuli adalah dia Tangguh!  Akhirnya Allah benar-benar mempertemukan kami dalam satu amanah. Waktu itu kami masuk semester tujuh dan PPL (Praktek Pengalaman Lapangan disekolah) saya dan dia diamanahkan di DPM-REMA (dewan perwakilan mahasiswa) yuli yang waktu itu sebagai kepala komisi C dan saya staf komisi A. memang kami tidak dalam satu bidang tapi sejak saat itu kita sering menghabiskan waktu bersama. Dari dia saya banyak belajar tentang arti keberanian, bagaimana seorang perempuan harus bisa menunjukkan kemampuan dan jati diri sebagai agent of change. Suatu hari sehabis kita rapat membahas undang-undang PMB yang saya agak lupa tepatnya ketika itu masuk sms “tika, kayaknye kmi(yuli) mau keluar” disitu saya baru menyadari bahwa peran seorang teman adalah bukan hanya ada disaaat ketawa ketiwi. Tapi peran seorang teman menjadi pembackup disaat rapuh. Saya yang memang jarang (mampu) berbicara banyak didepan orang hanya bisa menyampaikan semangat kepada yuli. Dan kami yang hanya berdua akhwat waktu itu saling menguatkan walaupun kerja di DPM ga keliatan tidak seperti teman-teman di BEM tapi bagi saya yang lahir di ranah da’awi banyak sekali mendapatkan banyak pelajaran. Kejadian disaat itu terulang waktu saya (mendadak) menjadi co acara fsldkn di syura akbar pertama kali saya sudah keringat dingin dipojokan masjid IAIN dan yuli menenangkan saya,mengajarkan saya sepatah dua patah kata untuk disampaikan ke khalayak ramai, ya benar saja ketika waktu penyampaian tiba yang diajarkan dan yang disampaikan ga ada yang sesuai denga latihan sempat ngeWhatssup yuli “yuli, tika ga bisa yul” jawaban yuli “bisa, tika bisa!” karena tempat duduk seorang co dan staf berbeda saya menoleh keatas tepat yuli duduk tampak dia mengepalkan tangan kanan sambil dengan mimik wajah “semangat tika bisa” Kejadian yang tak terlupakan.

Dari dua orang yang berbeda karakter ini saya banyak  belajar, saya juga banyak bercerita bahkan ada yang “rahasia” , dan mereka berdua menginspirasi saya. semoga kita bisa bertemu lagi dan berteman sampai ke Surga.aamiin.  Jazakillah, Uhibbuki fillah :)

foto diambil saat reuni ikhwah ikip angkatan 2009 yuli(atas) dayang(tengah) dan saya

Senin, 23 Maret 2015

Tentang Proses

Ketika banyak orang berkata "ah itu hanya proses saja" atau ada juga beberapa yang berkata "anggap saja hari ini kau kenal dia seperti teman lainnya, jika tak ada kecocokan. tinggalkan saja cari teman baru"
kata-kata yang terkadang membuat hati-perempuan-macam-saya tak bisa menerimanya. ingin rasanya mengabarkan keseluruh orang-orang itu "Hei ini bukan permainan" .sulit. benar-benar sebuah keputusan yang sulit. Proses yang panjang seperti menghadapi sebuah tes lisan dihadapan dosen saya mata kuliah Sejarah Australia ocenia yang ketika itu rasa lidah dan otak tergaga gugu, kelu. antara malu dan membisu. syahdu namun kaku. tak bisa dibedakan.
itulah mengapa perjalanan melindungi hati dari kesia-siaan adalah ujung tombak dalam proses ini. berbaik sangka pada sang pemilik hati, Allah.
Memang sejatinya kita selalu bisa berkata apa-saja-tentang-Sabar. tapi nyatanya? ah tak semudah yang kau bayangkan. Karena proses mengenal sesosok manusia membutuhkan bermilyaran detik, apalagi 2,3,4 sosok. lagi-lagi ini hanya proses. bagaimana bisa kau tahu seluk beluk kebiasaan teman yang sudah dari sekolah Menengah Atas kau kenali, bagaimana kau mengenal teman semasa begajulan di bangku kuliah sebelum hijrah. bagaimana?
semoga kita, entah itu saya atau kau yang akan atau sudah dihadapi sebuah pertanyaan-pertanyaan semacam menyepelekan ini, bisa mencernanya kembali. atau juga bisa melupakannya saja. atau bahkan melindungi dengan terus berdoa bahwa masih ada kesempatan esok yang Allah karuniakan rasa menyabarkan diri sendiri dan menyabarkan proses mengenali dengan indah. karena proses mengenal teman tidak semudah kau ingat nama dan makanan favoritnya tapi lebih dari itu. bahkan kau harus tahu dan hafal no hp nya. bahkan lebih.

@Pontianak, 2303'15
23:28 Wib
-Ruang Tafakur

Minggu, 15 Maret 2015

Menjaga


Sepasang mata, bolehkah aku bertanya.
bagaimana kau bisa menjaga?
Maksudmu?
bagaimana kau bisa menjaga dari pandangan dunia fana?
Maksudmu?
Maksudku, bagaimana kau menjaga pandangan? pandangan yang bisa mencelakakan bila tak dijaga, bagaimana kau bisa menjaganya?

-----
aku seolah olah melihatNya. dan sesungguhnya ada yang melihat gerak-gerikku. aku takut.

Sabtu, 14 Maret 2015

Petrichor part 2




Kemarin sore, di Pontianak hujan. Hujan sangat deras, saya yang sudah menggunakan jas hujan saja masih basah. Basah kuyup sekali. Tapi cerita saya kali ini bukan-tentang-saya-yang-kehujanan hehe.masih tentang kehujanan dan kejadian sore itu tapi ini yang menarik hati saya  *Tssaaahh :)

Begini ceritanya…
Saya yang sudah kehujanan kuyup waktu itu tidak memilih untuk berhenti, karena bagi saya hujan adalah suatu suasana yang termanis karena ketika hujan saja kita bisa menghirup Petrichor. Biasanya moment hujan, entah itu gerimis,hujan deras atau bahkan hujan badai sekalipun tetap membawa suasana hati kita menjadi rada galau hahaa. (udah serius,masih aja bercanda -_-)

Nah ketika itu saya terjebak macet, bisa dibayangkan Macet? Hujan deras?Wah,jangan di bayangkan.pasti semakin galau. Ketika itu mata saya melihat dua orang anak manusia (?) yang masih menggunakan seragam sekolah di atas motor Yam*h* (sepertinya sebab mata saya rabun :D) kedua anak ini terlihat tidak galau, saya ga habis pikir hujan deras itu mereka happy sekali, Oke lebih detailnya yang menggunakan seragam SMA laki-laki dan yang menggunakan seragam SD laki-laki juga. Saya perkirakan mereka abang-adek. Bukan itu yang menjadi perhatian saya. Bukan tentang seragam mereka juga.
Yang menarik perhatian saya adalah mereka tidak menggunakan jas hujan, dan Helm besar sang anak lelaki SMA itu diberikan  ke anak lelaki SD.. Ya anak kecil yang masih bercelana pendek. Dengan riang gembira anak lelaki SD memakai helm besar itu dan berlindung dibalik tubuh anak lelaki SMA sambil memeluk Tas anak lelaki SMA agar tidak kehujanan. Mereka menikmati air hujan, sambil anak lelaki SD membentangkan tangan lalu memeluk tas anak SMA lagi. begitulah, sesekali tertawa seakan-akan saya mendengar mereka berteriak “Hello Hujan”. Mungkin karena mereka gembira. Atau mungkin juga karena mereka sudah terlanjur basah kuyup.entahlah. hahahaa.

Tapi moment itu sangat menginspirasi saya, Alhamdulillah.Allah memberikan pelajaran untuk saya melalui kedua anak itu adalah bahwa setiap kita bisa menciptakan kebahagiaan untuk kita sendiri, entah bagaimanapun caranya.Kita juga bisa bersyukur melewati hari dengan cara kita sendiri. hanya kita yang tau. dan setiap kita bisa saling menjaga. dalam keadaan apapun kita bisa menjaga saudara kita. entah bagaimanapun caranya. Bahagia itu sederhana. Sesederhana menikmati butir-butir air hujan. Itu saja.

“katanya cinta memang banyak bentuknya…..Kuterpikat pada tuturmu, aku tersihir jiwamu, terkagum pada pandangmu, caramu melihat dunia kuharap kau tau bahwa ku terinspirasi hatimu” (Raisa, Jatuh hati)