*Nada hp tanda sms berbunyi*
"tik, cek whatssup"
"oke kakak"
seorang kakak yang tempo hari saya tanya-tanyain *sungkem kakak sholeha :)
pertanyaan saya yang tidak terlalu penting lah, tapi menjanggal pikiran.
----
Mendapati pesan panjang dan lebar yang membuat kening saya mengernyit
menandakan bahwa saya sedang dilanda kebingungan. ada sesuatu yang membuat saya
heran dan bertanya-tanya mengapa "Proses" itu sangat rumit? dan
mengapa harus ada "Proses" itu? daaaan kenapa dalam
"Proses" itu masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain yang akan
terjadi? kenapa coba???
---
Suatu ketika ada seorang ukhti, beliau yang saya kenal ini seorang penghafal
quran dan sholeha. yang akan menikah dalam beberapa waktu lagi. Tetapi tidak
jadi. karena dibatalkan oleh pihak lelaki pada saat dalam proses ta'aruf.
beliau bercerita tentang prosesnya, menurut saya tidak ada kekurangan apapun
pada ukhti ini.
pertanyaan saya kenapa bisa?
"Ya karena Allah sang maha pembolak balik hati, dek" jawabnya
waktu itu yang membuat saya terheran-heran luar biasa. mungkin sama apa yang
dirasa ukhti tersebut pun.
Lalu ukhti tersebut melanjutkan ceritanya,
"dia merasa tidak
pantas mendapatkan kakak, dek. dia bilang ilmunya masih kerdil jadi dia memutuskan tidak untuk meneruskan proses
ini, dan sulit jika meneruskan hidup bersama kakak"
"dia menyampaikan itu?" tanya saya penasaran
Saya yang waktu itu hanya bisa menarik napas panjang.dilanda keheningan.
Ayolah, Apa sebenarnya yang ada didalam pikiran seseorang (mungkin) yang
disebut-Ikhwan-memutuskan calon mempelai wanita sholeha ? hanya karena sang
ikhwan (mungkin) merasa minder? Pertanyaan ini tercetus dalam pikiran saya yang
memang belum paham hingga sekarang kenapa harus ada penolakan sepihak ini.
Salahnya dimana?
jika Sholeha menurut
versi seorang ikhwan adalah cerdas, hafal quran, hafal hadits. lalu apa yang
salah dengan ukhti ini?
Salahnya dimana?
dan akhirnya ukhti ini mendapatkan jawaban dari seorang ustadz yang menjadi
perantaranya. Bahwa ada beberapa kriteria Fisik yang tidak masuk dalam kriteria sang ikhwan yang katanya -mencari-wanita-sholeha-itu.
Bagaimana coba? Pasti kau bisa membayangkan seberapa perih hati ukhti
tersebut. Yang pada kenyataanya –ikhwan- tersebut hanya tak mampu menyampaikan
bahwa bukan karena ia tak sepadan dan bukan karena ukhti ini tak sholeha kan?
Tapi karena kriteria”cantik” menurut versi ikhwan tersebut yang menjadikan dia
tak bisa meneruskan Proses itu.
Saya masih terperangah…
Teringat suatu ayat yang memesona:
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan
laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang.baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs.
An Nur:26)
Jika Kecantikan fisik menjadi standarisasinya, itu mungkin hal yang -biasa-
tapi yang tidak bisa saya tangkap adalah rasa rasanya mengapa pula Cantik fisik
disandingkan dengan Keshalihaan seseorang? Pertanyaan saya sebenarnya yang
sebenarnya dicari apa? cantik nya? Atau sebenarnya nafsu dunia?
Ah, manusia selalu saja begitu kan?
-----
Berhentilah mengkaitkan keshalihan dan kecantikan fisik yang -walaupun- itu
adalah FITRAH manusia. Berhentilah.
Shalihah itu mempunyai tempat tersendiri menurut saya, cantik adalah nilai
Plus Plusnya.Jika ia shalihah,kecantikan akan menghiasinya. Jika proses ini
proses mengenali “calon” melalui cara ini adalah pilihan maka bukankah kau
harus siap dengan setiap manis-asam-asinnya?
Berhentilah mengkaitkannya, padahal masih banyak orang yang tak paham dengan
proses ini dan memilih untuk “berpacaran” yang membuang waktu dan tenaga, yang
hanya menghabiskan kemanisan lajang, membiarkan mata –yang-bukan-mahram
menjamah jamah bak kue dagangan ibu-ibu dipasar?
Berhentilah saya mohon, berhentilah menggalaukan nafsu keduniawiaan.
Tapi, jika Peristiwa menggenapkan ini sangat penting untuk menjalani hidup
dialam dunia ini.
maka, Luruskanlah niat.
Menikah itu kan perkara untuk
bahagia. Kebahagiaan mencapai Surga Allah bersama yang kau nikahi.
Pernikahan itu kan penyatuaan 2 keluarga besar, bukan hanya penyatuan hati
kedua orang saja. Pernikahan itu kan ketika berpeluh keringat mencari nafkah, dan kau ingat
ada orang yang tadinya –bukan-siapa-siapamu- harus kau tanggung juga hidupnya.Pernikahan itu kan yang kau tadinya tak biasa Memasak, mencium, merasai
aroma bumbu-bumbu tapi kau harus menjalaninya. Dan kau ingat ada orang
yang-tadinya-bukan siapa-siapamu- harus kau masaki. Pernikahan itu kan ? Bagi perempuan, belajar menjadi Menantu,menjadi kakak
ipar atau adik ipar,menjadi istri,menjadi ibu dan menjadi wanita yang baik.
------
Dan semua proses itu hanya satu tujuannya mengharap keridhaan Allah. Pemilik
segala sesuatu. Pemilik hati-hati kita.