Laman

Jumat, 27 Maret 2015

Proses Menggenapkan



*Nada hp tanda sms berbunyi*
"tik, cek whatssup"
"oke kakak"
seorang kakak yang tempo hari saya tanya-tanyain *sungkem kakak sholeha :)
pertanyaan saya yang tidak terlalu penting lah, tapi menjanggal pikiran.
----
Mendapati pesan panjang dan lebar yang membuat kening saya mengernyit menandakan bahwa saya sedang dilanda kebingungan. ada sesuatu yang membuat saya heran dan bertanya-tanya mengapa "Proses" itu sangat rumit? dan mengapa harus ada "Proses" itu? daaaan kenapa dalam "Proses" itu masih ada kemungkinan-kemungkinan yang lain yang akan terjadi? kenapa coba???
---
Suatu ketika ada seorang ukhti, beliau yang saya kenal ini seorang penghafal quran dan sholeha. yang akan menikah dalam beberapa waktu lagi. Tetapi tidak jadi. karena dibatalkan oleh pihak lelaki pada saat dalam proses ta'aruf. beliau bercerita tentang prosesnya, menurut saya tidak ada kekurangan apapun pada ukhti ini.
pertanyaan saya kenapa bisa? 
"Ya karena Allah sang maha pembolak balik hati, dek" jawabnya waktu itu yang membuat saya terheran-heran luar biasa. mungkin sama apa yang dirasa ukhti tersebut pun.
 Lalu ukhti tersebut melanjutkan ceritanya,
"dia merasa tidak pantas mendapatkan kakak, dek. dia bilang ilmunya masih kerdil jadi dia memutuskan tidak untuk meneruskan proses ini, dan sulit jika meneruskan hidup bersama kakak"
"dia menyampaikan itu?" tanya saya penasaran
Saya yang waktu itu hanya bisa menarik napas panjang.dilanda keheningan. 

Ayolah, Apa sebenarnya yang ada didalam pikiran seseorang (mungkin) yang disebut-Ikhwan-memutuskan calon mempelai wanita sholeha ? hanya karena sang ikhwan (mungkin) merasa minder? Pertanyaan ini tercetus dalam pikiran saya yang memang belum paham hingga sekarang kenapa harus ada penolakan sepihak ini.
Salahnya dimana?
jika Sholeha menurut versi seorang ikhwan adalah cerdas, hafal quran, hafal hadits. lalu apa yang salah dengan ukhti ini?

Salahnya dimana? 

dan akhirnya ukhti ini mendapatkan jawaban dari seorang ustadz yang menjadi perantaranya. Bahwa ada beberapa kriteria Fisik yang tidak masuk dalam kriteria sang ikhwan yang katanya -mencari-wanita-sholeha-itu. 

Bagaimana coba? Pasti kau bisa membayangkan seberapa perih hati ukhti tersebut. Yang pada kenyataanya –ikhwan- tersebut hanya tak mampu menyampaikan bahwa bukan karena ia tak sepadan dan bukan karena ukhti ini tak sholeha kan?
Tapi karena kriteria”cantik” menurut versi ikhwan tersebut yang menjadikan dia tak bisa meneruskan Proses itu. 
Saya masih terperangah…
Teringat suatu ayat yang memesona:
“Wanita-wanita yang tidak baik untuk laki-laki yang tidak baik, dan laki-laki yang tidak baik adalah untuk wanita yang tidak baik pula. Wanita yang.baik untuk lelaki yang baik dan lelaki yang baik untuk wanita yang baik. (Qs. An Nur:26)

Jika Kecantikan fisik menjadi standarisasinya, itu mungkin hal yang -biasa- tapi yang tidak bisa saya tangkap adalah rasa rasanya mengapa pula Cantik fisik disandingkan dengan Keshalihaan seseorang? Pertanyaan saya sebenarnya yang sebenarnya dicari apa? cantik nya? Atau sebenarnya nafsu dunia?
Ah, manusia selalu saja begitu kan?
-----
Berhentilah mengkaitkan keshalihan dan kecantikan fisik yang -walaupun- itu adalah FITRAH manusia. Berhentilah.
Shalihah itu mempunyai tempat tersendiri menurut saya, cantik adalah nilai Plus Plusnya.Jika ia shalihah,kecantikan akan menghiasinya. Jika proses ini proses mengenali “calon” melalui cara ini adalah pilihan maka bukankah kau harus siap dengan setiap manis-asam-asinnya? 

Berhentilah mengkaitkannya, padahal masih banyak orang yang tak paham dengan proses ini dan memilih untuk “berpacaran” yang membuang waktu dan tenaga, yang hanya menghabiskan kemanisan lajang, membiarkan mata –yang-bukan-mahram menjamah jamah bak kue dagangan ibu-ibu dipasar? 
 Berhentilah saya mohon, berhentilah menggalaukan nafsu keduniawiaan. 
 
Tapi, jika Peristiwa menggenapkan ini sangat penting untuk menjalani hidup dialam dunia ini.
maka, Luruskanlah niat. 
Menikah itu kan perkara untuk bahagia. Kebahagiaan mencapai Surga Allah bersama yang kau nikahi.

Pernikahan itu kan penyatuaan 2 keluarga besar, bukan hanya penyatuan hati kedua orang saja. Pernikahan itu kan ketika berpeluh keringat mencari nafkah, dan kau ingat ada orang yang tadinya –bukan-siapa-siapamu- harus kau tanggung juga hidupnya.Pernikahan itu kan yang kau tadinya tak biasa Memasak, mencium, merasai aroma bumbu-bumbu tapi kau harus menjalaninya. Dan kau ingat ada orang yang-tadinya-bukan siapa-siapamu- harus kau masaki. Pernikahan itu kan ? Bagi perempuan, belajar menjadi Menantu,menjadi kakak ipar atau adik ipar,menjadi istri,menjadi ibu dan menjadi wanita yang baik.
------
Dan semua proses itu hanya satu tujuannya mengharap keridhaan Allah. Pemilik segala sesuatu. Pemilik hati-hati kita.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)