Laman

Sabtu, 02 Mei 2015

Cerita hari itu



Hari itu seperti biasa rutinitas saya mengajar privat disebuah komplek perumahan yang lumayan elite di kota Pontianak. Hampir tiga bulan saya mengajar les di sana. Hari itu Seperti biasa saya memarkirkan “khusna” motor kesayangan saya di halaman samping rumah tersebut. Tiba-tiba saya di kejutkan dengan kehadiran sesosok bapak-bapak dari halaman kanan.

“bu, motornya agak masuk aja bu” perintahnya
Lalu saya tanpa banyak kata langsung mengerjakan perintah bapak itu. Setelah saya meletakkan khusna dengan benar, bapak itu menghampiri saya.

“tunggu ya bu saya panggilkan mba bunga”

Mba bunga adalah baby sitter yang menjaga anak-anak si empunya rumah, nah saya mengajar anak pertama dari si empunya rumah. Anak yang lucu dan pintar. Anak laki-laki yang sangat sayang kepada adik perempuan satu-satunya. Jujur saja saya jarang bertemu dengan ibunya, pernah sih bertemu waktu pertama kali saya mengajar dan beberapa kali kalau sedang beruntung bertemu. Sedangkan ayahnya tiga bulan sejak saya mengajar, saya belum pernah sekalipun melihat batang hidung ayahnya. Ibunya pernah bercerita bahwa ayahnya bekerja di luar kota. Sangat sibuk, kalaupun pulang hanya beberapa hari saja. Nah mungkin ketika ayahnya pulang itu jadwal mengajar saya tidak ada. Jadinya tidak pernah bertemu.
Oke, kembali ke cerita awal.
Sayapun mengajar seperti biasa selama 1 jam. kalau sedang bosan-bosannya ya hanya 30 menit aja. Haha. Biasalah anak-anak, itupun terkadang saya selingi dengan menggambar, bermain gadget, bercerita,dan macam-macam deh. Hari itu mood nya lagi bagus, dia semangat belajar dan banyak bercerita juga jadi hampir 1 jam lebih sedikit saya mengajarhari itu.

Okay Alvin, After study English let we say Hamdallah together….. ucap saya tanda berakhirnya les
“Alhamdulillahirrabbil’aalamiin…” suara teriakan Alvin
“Miss, Alvin maen dulu yaa..”

Beberapa saat kemudian saya di temani mba bunga, saya juga mengoreksi sedikit pelajaran dari si Alvin itu dan menyampaikan ke mba bunga, doa saya selalu. semoga mba bunga mengerti dengan penyampaian saya hehe. Setelah mengobrol sebentar sayapun pamit pulang.
Nah,oke seperti di awal cerita saya. Saya penasaran Karena saya tidak pernah sebelumnya dengan-bapak-tadi. Siapakah dia? Apakah dia adalah ayahnya Alvin? Saya bertanya-tanya tapi sedikit tidak mungkin. Dari penampilannya bapak itu sedikit lebih muda perkiraan saya kalau semisal dia ayahnya Alvin.
Saya pun keluar, ke halaman samping. daannn… pucuk di cinta ulam pun tiba (halah) hehe. Sang bapak yang bikin saya penasaran pun muncul lagi.
“mau pulang bu?” tanyanya
Saya pun meng iyakan dengan tersenyum
Dia bertanya lagi “ ibu ngajar ngaji ya?”
“ga pak, saya ngajar les pak. Guru ngajinya ada lain lagi bukan saya” jawab saya sambil menjelaskan
“oh saya kira ibu ngajar ngaji, saya pernah ketemu guru ngajinya sama kayak ibu, ibu ngajar les apa bu?”
“iya pak, saya ngajar bahasa inggris”
“oh les bahasa inggris bu, saya ga menyangka. Ibu seperti nguru ngaji” bapak itu tertawa
Karena penasaran. Saya Tanya balik sang bapak “bapak siapanya Alvin?”
“saya tukang kebun bu, nih halaman depan sudah agak gondrong” ucapnya
Benar perkiraan saya bapak itu bukan ayah Alvin tapi tukang kebunnya. Saya tidak menyangka bapak itu tukang kebun sebab penampilannya agak muda dan gaul. Lalu saya pun ikut tertawa dan mengerti dengan penjelasan bapak yang bikin saya penasaran itu kemudian Saya pun pamit melanjutkan aktivitas. Sepanjang perjalanan saya berpikir. Sudah sekian kali saya dikira guru ngaji (read: baca quran) karena penampilan saya kah? Yup. Tentang penampilan.
pernah suatu hari saya di tawarkan mengajar mengaji quran tapi saya menolak, bukan apa-apa waktu itu saya masih belajar tahsin dan belum berani untuk mengajar ngaji quran apalagi tawaran itu mengajar di sebuah taman belajar Alquran yang diisi oleh anak-anak yang akan menghabiskan waktu liburan. Bukan sembarang liburan, mereka menghafal alquran. Dan saya di rekomendasikan untuk mengajar disana? Ya Allah malunya saya, hafalan saya dan mereka hampir sama. Rasanya ingin membenamkan wajah karena malu. Di satu sisi saya semangat karena saya jadi terpacu untuk lebih dan lebih lagi belajar tahsin dan tahfidz. Tapi di sisi lain rasanya saya  belum pantas, akhirnya saya putuskan untuk tidak dulu. Dan saya akan terus belajar janji saya waktu itu.
Terkadang memang benar, orang-orang memandang kita dari luarnya saja. Kita di pandang begitu dan begini karena orang-orang melihat “cover” kita. Betapa beratnya tanggung jawab kita kalau pada kenyataannya kita yang mereka anggap begitu dan begini sebenarnya tidak seperti yang mereka bayangkan. Tanggung jawab kita, mengatasnamakan seorang muslim. Orang akan melihat dari sisi pemikiran mereka. Sekali saja kita berbuat kejahatan, maka orang tidak melupakan itu. Tidak adil? Iya tapi itu adalah tanggung jawab kita sebagai agen muslim. Maka, jadilah agen muslim yang baik. Kalaupun kita belum bisa menjadi guru ngaji (read: quran) mengajarkan kitab suci Alquran. setidaknya kita bisa menjaga adab-adab kita, kepada orang-orang yang belum kita kenal,kepada murid kita, kepada saudara kita seperti yang sudah tercantum dalam kitab terhebat sepanjang sejarah. Al quran.
“Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan Kami turunkan Kitab Alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri (muslim)” (QS an nahl : 89)
Sudahkah kita menjadi agen muslim yang baik?
semoga saja. Walaupun berproses.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)