Hari itu seperti biasa rutinitas saya mengajar privat
disebuah komplek perumahan yang lumayan elite di kota Pontianak. Hampir tiga
bulan saya mengajar les di sana. Hari itu Seperti biasa saya memarkirkan
“khusna” motor kesayangan saya di halaman samping rumah tersebut. Tiba-tiba
saya di kejutkan dengan kehadiran sesosok bapak-bapak dari halaman kanan.
“bu, motornya agak
masuk aja bu” perintahnya
Lalu saya tanpa banyak kata langsung mengerjakan perintah
bapak itu. Setelah saya meletakkan khusna dengan benar, bapak itu menghampiri
saya.
“tunggu ya bu saya
panggilkan mba bunga”
Mba bunga adalah baby sitter yang menjaga anak-anak si
empunya rumah, nah saya mengajar anak pertama dari si empunya rumah. Anak yang
lucu dan pintar. Anak laki-laki yang sangat sayang kepada adik perempuan
satu-satunya. Jujur saja saya jarang bertemu dengan ibunya, pernah sih bertemu
waktu pertama kali saya mengajar dan beberapa kali kalau sedang beruntung bertemu. Sedangkan ayahnya
tiga bulan sejak saya mengajar, saya belum pernah sekalipun melihat batang
hidung ayahnya. Ibunya pernah bercerita bahwa ayahnya bekerja di luar kota.
Sangat sibuk, kalaupun pulang hanya beberapa hari saja. Nah mungkin ketika
ayahnya pulang itu jadwal mengajar saya tidak ada. Jadinya tidak pernah
bertemu.
Oke, kembali ke cerita awal.
Sayapun mengajar seperti biasa selama 1 jam. kalau sedang
bosan-bosannya ya hanya 30 menit aja. Haha. Biasalah anak-anak, itupun
terkadang saya selingi dengan menggambar, bermain gadget, bercerita,dan
macam-macam deh. Hari itu mood nya lagi bagus, dia semangat belajar dan banyak
bercerita juga jadi hampir 1 jam lebih sedikit saya mengajarhari itu.
Okay Alvin, After
study English let we say Hamdallah together….. ucap saya tanda berakhirnya les
“Alhamdulillahirrabbil’aalamiin…”
suara teriakan Alvin
“Miss, Alvin maen dulu
yaa..”
Beberapa saat kemudian saya di temani mba bunga, saya juga mengoreksi
sedikit pelajaran dari si Alvin itu dan menyampaikan ke mba bunga, doa saya
selalu. semoga mba bunga mengerti dengan penyampaian saya hehe. Setelah
mengobrol sebentar sayapun pamit pulang.
Nah,oke seperti di awal cerita saya. Saya penasaran Karena
saya tidak pernah sebelumnya dengan-bapak-tadi. Siapakah dia? Apakah dia adalah
ayahnya Alvin? Saya bertanya-tanya tapi sedikit tidak mungkin. Dari
penampilannya bapak itu sedikit lebih muda perkiraan saya kalau semisal dia
ayahnya Alvin.
Saya pun keluar, ke halaman samping. daannn… pucuk di cinta
ulam pun tiba (halah) hehe. Sang bapak yang bikin saya penasaran pun muncul
lagi.
“mau pulang bu?”
tanyanya
Saya pun meng iyakan
dengan tersenyum
Dia bertanya lagi “
ibu ngajar ngaji ya?”
“ga pak, saya ngajar
les pak. Guru ngajinya ada lain lagi bukan saya” jawab saya sambil menjelaskan
“oh saya kira ibu
ngajar ngaji, saya pernah ketemu guru ngajinya sama kayak ibu, ibu ngajar les
apa bu?”
“iya pak, saya ngajar
bahasa inggris”
“oh les bahasa inggris
bu, saya ga menyangka. Ibu seperti nguru ngaji” bapak itu tertawa
Karena penasaran. Saya
Tanya balik sang bapak “bapak siapanya Alvin?”
“saya tukang kebun bu,
nih halaman depan sudah agak gondrong” ucapnya
Benar perkiraan saya bapak itu bukan ayah Alvin tapi tukang
kebunnya. Saya tidak menyangka bapak itu tukang kebun sebab penampilannya agak
muda dan gaul. Lalu saya pun ikut tertawa dan mengerti dengan penjelasan bapak
yang bikin saya penasaran itu kemudian Saya pun pamit melanjutkan aktivitas.
Sepanjang perjalanan saya berpikir. Sudah sekian kali saya dikira guru ngaji
(read: baca quran) karena penampilan saya kah? Yup. Tentang penampilan.
pernah suatu hari saya di
tawarkan mengajar mengaji quran tapi saya menolak, bukan apa-apa waktu itu saya
masih belajar tahsin dan belum berani untuk mengajar ngaji quran apalagi tawaran
itu mengajar di sebuah taman belajar Alquran yang diisi oleh anak-anak yang
akan menghabiskan waktu liburan. Bukan sembarang liburan, mereka menghafal
alquran. Dan saya di rekomendasikan untuk mengajar disana? Ya Allah malunya
saya, hafalan saya dan mereka hampir sama. Rasanya ingin membenamkan wajah
karena malu. Di satu sisi saya semangat karena saya jadi terpacu untuk lebih
dan lebih lagi belajar tahsin dan tahfidz. Tapi di sisi lain rasanya saya belum pantas, akhirnya saya putuskan untuk
tidak dulu. Dan saya akan terus belajar janji saya waktu itu.
Terkadang memang benar, orang-orang memandang kita dari
luarnya saja. Kita di pandang begitu dan begini karena orang-orang melihat
“cover” kita. Betapa beratnya tanggung jawab kita kalau pada kenyataannya kita
yang mereka anggap begitu dan begini sebenarnya tidak seperti yang mereka
bayangkan. Tanggung jawab kita, mengatasnamakan seorang muslim. Orang akan
melihat dari sisi pemikiran mereka. Sekali saja kita berbuat kejahatan, maka
orang tidak melupakan itu. Tidak adil? Iya tapi itu adalah tanggung jawab kita
sebagai agen muslim. Maka, jadilah agen muslim yang baik. Kalaupun kita belum
bisa menjadi guru ngaji (read: quran) mengajarkan kitab suci Alquran. setidaknya
kita bisa menjaga adab-adab kita, kepada orang-orang yang belum kita kenal,kepada
murid kita, kepada saudara kita seperti yang sudah tercantum dalam kitab
terhebat sepanjang sejarah. Al quran.
“Dan (ingatlah) pada hari
(ketika) Kami bangkitkan pada setiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka
sendiri, dan Kami datangkan engkau (Muhammad) menjadi saksi atas mereka. Dan
Kami turunkan Kitab Alquran kepadamu untuk menjelaskan segala sesuatu, sebagai
petunjuk, serta rahmat dan kabar gembira bagi orang yang berserah diri
(muslim)” (QS an nahl : 89)
Sudahkah
kita menjadi agen muslim yang baik?
semoga saja. Walaupun berproses.
semoga saja. Walaupun berproses.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)