Laman

Minggu, 24 Mei 2015

Mereka bertemu



Mengapa kita selalu bertemu dengan orang-orang yang menginspirasi? hmm… karena, mungkin di setiap paginya kita selalu berdoa “semoga hari ini saya melewati hari dengan bertemu orang-orang yang menginspirasi” jadi, Allah pun meng ACC doa kita. Orang-orang yang Allah kirimkan untuk mengetuk hati kita pun berbagai macam bentuknya, ada yang langsung mengetuk hati. Ada yang setelah melewatinya barulah kita terpikirkan di sepanjang jalan, bahwa ternyata yang barusan kita lewati itu ada terselip cerita yang menginspirasi. Baru sadarnya ketika kita sudah kembali ke rumah atau sadarnya ketika kita bertemu kedua atau ketiga kalinya. Ah selalu saja, membuat hati terkadang terkagum terkadang pun malu. Malu karena betapa diri ini masih jauh dari kata “baik” yang sesungguhnya.

Sore itu melewati sebuah jalan yang hampir sejak kuliah selalu saya lewati, bisa dibayangkan sekarang sudah tahun ke enam. Jadi sudah enam tahun lewat jalan itu, dan kemungkinan perharinya sudah bolak-balik entah berapa kali tapi kok baru sadarnya sore itu ya. Di jalan itu ada sepasang suami istri yang berdagang es tebu di seberangan sebuah sekolah menengah pertama. Biasaya istrinya yang berjualan, suaminya yang mengupas dan membersihkan tebu. Menurut cerita adik saya sang suami agak sulit berjalan. Saya tahu mereka berjualan, saya sering melihatnya.
Di tempat yang berbeda dan di jalan yang sama, ada seorang bapak-bapak dengan menggunakan tongkat dan berjalan agak kesulitan dan sering singgah ke warung warung meminta ganjalan perut untuk bertahan hidup. Saya juga sering sekali melihat bapak tua itu. Hampir tiap saya melewati jalan itu beliau selalu ada. Bertopi dan membawa tongkat.
Takdir Allah, Mereka bertemu.
Entah bagaimana ceritanya, bapak tua yang membawa tongkat ada tepat di samping gerobak es tebu milik sepasang suami istri tersebut. Bapak penjual es tebu dengan mimik wajah sumringah yang sedang mengupas dan memotong tebu berjalan kesulitan menghampiri bapak tua itu sambil memberikan sesuatu yang mungkin sebagai “penolong” bapak tua. Adegan yang membuat kami. Saya dan adik saya terharu. Kejadian yang singkat tapi mengetuk pintu hati kami, terdiam. Benar-benar kejadian yang tak bisa dilupakan.
Pelajaran sore itu, walau dalam keadaan yang mungkin saja sulit tapi masih bisa menolong sesama, keadaan yang mungkin tidak banyak orang rela memberikan “sesuatu” tapi masih ringan tangannya untuk memberi. Ah indahnya hidup ini jika semua orang memiliki hati selembut itu, indahnya ketika semua orang dalam keadaan lapang ataupun sempit masih memikirkan saudaranya, yang padahal tak ada hubungan darah sama sekali hanya dengan rasa kemanusiaan yang tinggi bahwa ia yakin tak ada yang sia-sia apa yang ia lakukan di dunia ini. Tak ada yang sia-sia…
Saya belajar banyak dari kejadian sore itu
Sedih. belum bisa memiliki hati selapang bapak penjual es tebu itu.
Tapi bahagia, dari beliau saya banyak mendapatkan pelajaran. Menolong di saat sempit, apalagi jika lapang.
Untuk siapapun yang telah memberikan inspirasi di hari-hari saya. Terima Kasih.


Semoga kita bertemu ya, suatu hari di langit yang paling tinggi, di padang yang lapang di penuhi buah-buah segar dan akhirnya kita berkenalan. Bahwa ternyata kita pernah menjadi penduduk bumi. Indahnya. 
:)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)