Laman

Kamis, 21 Mei 2015

kita (masih) sahabat



Kau tahu? Yang tidak bisa kita tebak selain jodoh dan rejeki adalah kematian. Ya kematian, mengapa kita di dunia yang fana ini harus mempersiapkannya setiap detik? Jawabannya karena kematian itu dirahasiakan Allah. Kesementaraan kita di dunia inilah yang mengantarkan kita kepada apakah Allah ridha dengan perjalanan kita menuju Nya. Yang sehat  bisa di panggil yang sakit pun bisa juga. Ini hanya soal waktu, kita pasti menemui kematian. Saya dan kita semua pasti menemuinya. Hanya satu yang di harapkan dari mengakhirinya adalah khusnul khatimah. Aamiin



Siang itu saya sedang menghadap dosen untuk mengurus surat ijin penelitian, Handphone saya yang di silent kan bergetar. Itu berarti menandakan ada panggilan masuk atau sms yang masuk. Karena hampir 30 menit juga mengurus ini dan itu saya hampir terlupa ada “sesuatu” yang masuk di Handphone saya. Baru saja menyandarkan badan ke tembok masjid kampus saya lihat ada tiga panggilan tak terjawab, ada notif 1 panggilan di facebook total empat panggilan dan ping! Yang begitu juga banyaknya dari orang yang sama, Daniati atau biasa di panggil Nia. Biasanya kalau sudah begitu berarti ada sesuatu yang mendesak pernah soalnya seperti ini karena dia ada tugas kuliah. Tapi sepertinya kali ini dia benar-benar ada sesuatu. Daniati dia sahabat SMA saya. kami ini walaupun kuliah di tempat yang berbeda tapi masih sering hangout walaupun di akhir semester mulai tidak pernah bertemu, sudah pernah saya ceritakan di blog ini :)
Saya pun melentikkan jari jemari di layar touch handphone saya,
“Maaf nia ada nelpon? Tadi tika lagi ngadap dosen”
Baru saja pesan itu terkirim
Handphone pun kembali berteriak, minta di angkat
T : “Assalamu’alaykum nia?”
N : Dengan nada tidak jelas dan ngos ngosan “benar ke Aisyah tika Aisyah”
T : “nia suaranye putus-putus ni, nia kenape aisyah kenape nia?”
N: “Ade nia di ketapang bbm tadi (nia, orang yang berbeda dengan nama yang sama) katenye Aisyah meninggal tik”
T : saya terkejut antara tidak percaya dan kaget “Aisyah? Aisyah kite nia? Ya Allah… Innalillahi wa inna ilaihi raji’un”
Saya hening masih tidak percaya sebab nia yang memberikan info kepada kami berdua ini anaknya agak lucu dan jahil dari SMA. Tapi sejak kami berdua kuliah di Pontianak, Aisyah jadi dekat sekali dengan nia ini. Kemungkinan untuk bercanda atau membohongi kami berdua pun rasanya tidak mungkin.
Percakapan kamipun terputus
BBM masuk
N : maaf tik aku lagi ngadap dosen ni, kite bbm ja.
Karena penasaran saya hubungi no aisyah.tidak aktif.konyolnya saya pun meng sms
“Assalamu’alaykum aisyah apa kabar? Sehat kan?”
T_T
Sejak berita berpulangnya Aisyah, kami berdua benar-benar kehilangan. Bagaimana mungkin kami yang mendeklarasikan diri sebagai sahabat selama ini tidak tahu berpulangnya dia. Bahkan kami berdua tahu setelah hari ketiga ia tiada. Sedih bercampur kesal karena tidak bisa menemani di saat saat terakhir perjuangan aisyah menghadapi penyakitnya. Aisyah juga sahabat saya. Saya sampai sekarang masih menyimpan sms-smsnya. Belum terhapus sms terakhir aisyah
“Assalamualaikum, tik apa kabar? Gimane skripsi?”
Huaaa. Saya jadi terflashback hampir semua ke konyolan kami di masa SMA. Aisyah itu gadis sederhana, pendiam sebenarnya agak bawel juga sih. Hehe.
Pernah di sela sela istirahat seperti biasa, duduk di depan kelas kami waktu itu ada seperti kolam tapi bukan kolam seperti selokan tapi bersih, kami namai “Telaga” di situ kami bertiga Terkadang berempat dengan nia yang satunya. Saya, aisyah,daniati dan nia suka sekali bercerita dan berandai-andai ala anak SMA biasa.. Karena sudah hampir UAN ketika itu.
“yang pasti tika sih kuliah dulu” tembak saya atas pertanyaan besar setelah lulus
“aku sih kerje dulu lah sambil ngumpulkan uang buat kuliah” daniati nyela
Aisyah hening.
Waktu Di perpustakaan karena tidak ada guru, kamipun di ungsikan ke perpustakaan sekolah
“yang pastinye aku masih lama lah” jawab daniati atas pertanyaan besar siapa yang duluan nikah
“tika prediksi, aisyah duluan setelah itu daniati terakhir tika” jawab saya menahan tawa
Aisyah hanya tersenyum
---
Setelah enam tahun kemudian, aisyah yang tak kami sangka akan menjajaki bangku kuliah karena tidak ada semangat. Nyatanya, dia yang LULUS kuliah duluan diantara kami. Menjadi guru juga duluan. dan sudah mengikuti beberapa pelatihan guru di Jawa karena yayasan tempat aisyah mengajar adalah sebuah yayasan islam .kami berdua? Belum pernah. Oh ya dan tentang pernikahan, dia memang tak bertemu jodohnya di dunia. Tapi dia duluan menghadap sang Rabb. Ah, engkau aisyah. Kami merindukan telponmu.
Kami berdua selalu di hubungi aisyah, mungkin karena dia kehilangan kami atau kami yang terlalu cuek dengan ikatan “persahaban” ini? Rasanya untuk menyesali itu sekarang sudah terlambat,kan? Kami hanya bisa memandangi handphone yang sekarang tanpa tawamu lagi, syah. Tanpa mendengar ceritamu lagi, syah.
“tik, tadi saye cek up kerumah sakit ketemu teman kite. Perawat disana”
“tik, skripsi udah sampe mane nih”
“tika, kunci sukses tu tik SABAR,DOA DAN USAHA. SEMANGAT.met berjuang ye”
“tik, jangankan kau ye. Saye ja nda bise membayangkan saye ngajar kayak gimane”
“tik apa kabar ni? Belum pulang ke ketapang? Lalu nda ade kabar berite”

Ah. Sms sms itu masih tersimpan syah :’( 
Beberapa hari yang lalu bahkan saya bertemu dengan adik kelas yang menjadi favorit kita waktu SMA. Waktu itu rasanya refleks teringat dirimu dan ingin meng sms.
Tapi… sekarang kamu sudah tenang kan aisyah? Kamu sahabat terbaik. Jika suatu hari kita bertemu lagi di tempat terindah yang Allah siapkan. Kita akan berkumpul lagi ya. Jangan lupakan kami, syah. Panggil-panggil kami jika engkau sudah mencapai tempat terindah itu. Kami akan menyusulmu..

Allahummagh firlahaa Warham haa Wa’afi haa Wa’fu’anhaa…





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)