Siang itu siang yang
tidak biasa. kita bertemu. Bertemu? Ya bertemu. Setelah hampir 5 tahun. kata orang-orang kita pernah jadi sahabat. aku pernah bersahabat denganmu? ah, rasanya tak percaya. pertemuan tanpa perjanjian. hanya percakapan biasa. di siang terik.Aku
sumringah, setelah biasanya hanya mendengar kabar dari teman-teman. akhirnya kau tiba juga disini,
“karena pekerjaan lumayanlah 3 hari disini” katanya diawal jumpa .
“karena pekerjaan lumayanlah 3 hari disini” katanya diawal jumpa .
“pesan apa?” dia
membuka obrolan kaku
aku menjawab “cappuccino aja"
“masih sama ya ga
berubah rubah,.cappuccino” dia tampak menahan tawa dan sedikit membenarkan tempat duduk.
“iya aku masih sama kayak dulu” aku membela diri
entah pertemuan apa ini. aku yang sudah membeku seperti ditimpuk es salju. dingin.
entah pertemuan apa ini. aku yang sudah membeku seperti ditimpuk es salju. dingin.
“gimana kuliah? Cepat
diselesain dong” tanyanya
aku yang tersadar bahwa ada makhluk yang menanyaiku “aku masih berhenti
disatu titik nih, bosan”
“kalo bosan inget dan ngebayangin wajah ayah ibu tuh” jawabnya memberi nasihat
siang itu Ada satu hal yang aku
dapatkan. Di tempat itu aku mendapatkan banyak nasihat. Huh.kau tahu? 5 tahun tak bertemu dan kau hanya
menasihatiku tentang KULIAH??? Aku benci membicarakan hal ini. Biarlah aku
menikmatinya sendiri. Iya. Kau juga tahu.
dia mulai mengaduk-aduk Es teh-manisnya
“masih suka ke PSP cari
buku-buku murah,?”
“kadang-kadang. Sekarang aku lagi baca buku-buku parenting” aku
tertawa kecil
“syukurlah,setidaknya ada perubahan untuk selera bukumu sekarang bukan
komik conan lagi” jawabnya terbahak-bahak
“tanya aku balik kek”
“oke, apa ya” jawabku
Tiba-tiba benda kecil berwarna hitam
di meja kami berbunyi dengan nada keras
“aku angkat dulu ya”
“Oh ya besok aku mau ditemenin ke PSP ya, liat-liat aja. Siapa tahu ada
benda-benda yang bisa aku bawa pulang ke jogja” ajaknya
"kapan pulang?" tanyaku
dia meneguk es teh manisnya “aku pulang besok pesawat sore”
tetiba aku mulai mengalami kebingungan “aku ga bisa, aku cariin temen aku aja buat antarin kamu, gimana?”
dia sepertinya kecewa dan entah apalagi yang ada didalam pikirannya aku tak bisa membacanya. sahabat yang aneh.
“ya udah aku besok ga ke PSP tapi bisa sore besok kebandara?aku jarang-jarang loh kepontianak” dia menawarkan plan yang aneh lagi.
hening...
tiba-tiba aku mendengar tertawanya lagi, dan kali ini dia lebih melepaskan ekspresi lebih gila.
"aku bercanda... kamu serius amat jadi orang ga berubah. aku tau ini ga mungkin. udah hijrah lima tahun lalu kan? udah berapa menit nih kita ikhtilat?"
aku terdiam memandangi gelas berisi cappucino yang hampir habis.
ingin sekali memandang wajah sahabat-kecilku ini dan berkata bisakah kau hentikan ini?
“ya udah aku besok ga ke PSP tapi bisa sore besok kebandara?aku jarang-jarang loh kepontianak” dia menawarkan plan yang aneh lagi.
hening...
tiba-tiba aku mendengar tertawanya lagi, dan kali ini dia lebih melepaskan ekspresi lebih gila.
"aku bercanda... kamu serius amat jadi orang ga berubah. aku tau ini ga mungkin. udah hijrah lima tahun lalu kan? udah berapa menit nih kita ikhtilat?"
aku terdiam memandangi gelas berisi cappucino yang hampir habis.
ingin sekali memandang wajah sahabat-kecilku ini dan berkata bisakah kau hentikan ini?
"jalan kita memang beda, mari berteman saja" (sulis, Teman Biasa)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)