Laman

Selasa, 07 April 2015

kamu Aman(ah)?

Setiap orang pasti memiliki masalah dalam hidupnya, dan setiap orang juga pasti tahu cara mengatasi masalahnya. tapi ada juga sebagian yang tidak bisa mengatasinya.cara terbaik dari mengatasinya adalah dengan menghadapinya. menghadapi masalah itu dengan berarti kita mampu melewatinya. karena tidak banyak orang yang bisa menghadapi masalahnya dan lebih memilih mundur atau menyerah dengan masalah yang sedang dihadapinya. Padahal, Allah menerangkan dalam QS Asy Syarh 5-6 bahwa Bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan
Nah dengan demikian jika kita memiliki masalah tentunya Allah juga sudah mempersiapkan kemudahan untuk mengatasinya. dengan masalah juga kita bisa mengajarkan diri kita untuk lebih mendewasakan pemikiran kita. asalkan tetap dengan koridornya bahwa masalah-harus-dihadapi bukan ditinggali. Betewe, berbicara Tentang masalah apakah kita bisa menghubungkannya dengan Amanah ? Apakah Masalah bisa muncul pada Amanah dan Amanah bisa muncul karena Masalah ? :)

saya teringat materi halaqah beberapa waktu lalu saat membahas tentang Amanah. betapa menakjubkannya, karena tidak jauh berbeda apa yang sudah di jelaskan guru ngaji saya jadi penjelasan di bawah ini adalah bersumber dari Dakwatuna. Oke, mari memulai pembahasan dari definisi Amanah menurut bahasa berasal dari kata-kata aman yaitu kebalikan dari takut.  Sedangkan amanah adalah kebalikan dari khianat. firman Allah SWT yang menjelaskan tentang amanah.

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Melihat.” (QS. An-Nisa': 58)

“Sesungguhnya kami Telah mengemukakan amanah kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanah itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanah itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzab: 72).

sampailah pada QS al ahzab 72 benar-benar terdiam. manusia itu amat zalim dan amat bodoh, 

mari kita simak ada sebuah hadits

Abu Hurairah RA meriwayatkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda:

“Tanda-tanda orang munafik ada tiga; jika berbicara ia berbohong, jika berjanji ia ingkar, dan jika diberi amanah ia berkhianat.” (Muttafaq Alaihi).

dalam riwayat lainnya: 
‘Walaupun ia berpuasa dan shalat serta mengklaim dirinya muslim.”
Hudzaifah Al-Yamani RA berkata, Rasulullah SAW menyampaikan dua hadits kepada kami, aku mengetahui salah satunya dan masih menunggu yang lain. Rasulullah SAW bersabda: bahwa amanah itu turun di akar hati manusia kemudian Al-Qur’an turun lalu mereka mengetahui Al-Qur’an dan mengetahui Sunnah lalu seseorang itu tidur (melalaikannya?) maka amanah dicabut dari hatinya, kemudian ia tidur lagi dan amanah dicabut lagi dari hatinya dan yang tinggal hanya bekasnya, seperti bara yang jatuh ke kaki seseorang lalu ia mengangkat kakinya padahal tidak ada apa-apa di kakinya, kemudian orang itu mengambil kerikil dan orang-orang mengikutinya. Saat itu tidak ada seorang pun yang menunaikan amanah sampai ada yang mengatakan:
– “Di Bani Fulan itu ada seorang yang amanah”
–  “Alangkah tabahnya dia! Alangkah pandainya dia! Alangkah cerdasnya dia! Padahal di dalam hatinya tidak ada iman sebiji zarrah pun.
Telah datang suatu masa di mana aku tidak peduli siapa di antara kalian yang aku baiat. Jika dia seorang muslim aku berharap agar dia kembali kepada agamanya dan jika dia seorang nasrani atau Yahudi aku berharap agar dia kembali kepada amal usahanya. Sedangkan hari ini aku tidak berbaiat kecuali kepada Fulan dan Fulan.” (Muttafaq Alaihi)

bagaimana dengan keutamaan amanah?
Keutamaan Amanah
a. Amanah jalan menuju kesuksesan.
 Allah SWT berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya. dan orang-orang yang memelihara shalatnya. Mereka itulah orang-orang yang akan mewarisi
(QS. Al-Mukminun: 8-10)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan  apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat. (QS. An-Nisaa’: 58)

b. Merupakan sifat para Rasul, Para Nabi, Orang-orang Mukmin dan para malaikat.
Nabi Nuh berkata:
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,…”
(QS. Asy-Syu’araa’: 107)
Nabi Hud berkata:
“Ketika saudara mereka Hud berkata kepada mereka: “Mengapa kamu tidak bertaqwa? Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,”
(QS. Asy-Syu’araa’: 124-125)
Lihat Nabi Shalih berkata:
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,”
(QS. Asy-Syu’araa’: 143).
Lihat Nabi Luth berkata:
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu,” 
 (QS. Asy-Syu’araa’: 162).
Lihat Nabi Syuaib berkata:
“Sesungguhnya aku adalah seorang rasul kepercayaan (yang diutus) kepadamu.”
(QS. Asy-Syu’araa: 178).
Rasulullah SAW bersabda:
Tidak ada iman bagi orang yang tidak amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR. Ahmad)

c. Tanda Iman.
Rasulullah bersabda:
” قَالَ الرَّسُوْلُ: لاَ إِيْمَانَ لِمَنْ لاَ أَمَانَةَ لَهُ وَلاَ دِيْنَ لِمَنْ لاَ عَهْدَ لَهُ/ أحمد
Tidak ada iman bagi orang yang tidak Amanah dan tidak ada agama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
وقال أيضا : ” أَرْبَعٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ كَانَ مُنَافِقًا خَالِصًا، وَمَنْ كَانَتْ فِيْهِ خِصْلَةٌ مِنْهُنَّ كَانَتْ فِيْهِ خِصْلَةٌ مِنَ النِّفَاقِ حَتَّى يَدَعُهَا: إِذَا ائْتُمِنَ خَانَ، وَإِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا عَاهَدَ غَدَرَ، وَإِذَا خَاصَمَ فَجَرَ”/ بخاري مسلم
Empat hal, barang siapa dalam dirinya ada empat hal tersebut, dia munafik murni, dan barang siapa yang ada sebagian dari sifat itu, dia memiliki sebagian sifat nifak hingga dia meninggalkannya. Yaitu: Jika dipercaya khianat, jika berbicara bohong, jika berjanji ingkar dan jika bermusuhan (berseteru) dia jahat”. (HR. Bukhari Muslim)

d. Amanah itu menandingi dunia dan isinya.
” أَرْبَعٌ إِذَا كُنَّ فِيْكَ فَلاَ عَلَيْكَ مَا فَاتَكَ مِنَ الدُّنْيَا:حِفْظُ أَمَانَةٍ، وَصِدْقُ حَدِيْثٍ،
 وَحُسْنُ خُلُقٍ، وَعِفَّةُ طُعْمَةٍ/ أحمد
Empat hal jika dia ada dalam dirimu, engkau tidak merugi walaupun kehilangan dunia. Menjaga amanah, berkata dengan jujur, berakhlaq yang mulia dan menjaga makanan (dari yang haram).” (HR. Ahmad)

e. Kompeten untuk menerima tanggungjawab.
Allah SWT berfirman:
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai ayahku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang engkau ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”.” (QS. Al-Qashahs: 26)

Betapa Amanah itu teramat penting, bagi kita terutama saya yang masih sangat sering menyepelekan amanah-amanah ini merupakan tamparan dan nasihat. jadi jika masalah itu kau temui pada amanah mu maka hadapilah.

Ternyata amanah juga memiliki beberapa bagian:
Ruang Lingkup Amanah
a. Amanah fitrah.
Adalah amanah besar yang diberikan oleh Allah kepada manusia. Allah SWT berfirman:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi”. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)”,” (QS. Al-A’raf: 172)

b. Amanah Dakwah.
Allah SWR berfirman:
“Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: “Wahai bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Ali Imran: 110)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
“Telah dilaknati orang-orang kafir dari Bani Israil dengan lisan Daud dan `Isa putra Maryam. Yang demikian itu, disebabkan mereka durhaka dan selalu melampaui batas. Mereka satu sama lain selalu tidak melarang tindakan munkar yang mereka perbuat. Sesungguhnya amat buruklah apa yang selalu mereka perbuat itu. (QS. Ali Imran: 78-79)

c. Amanah anggota badan manusia.
Anggota badan merupakan amanah Allah pada manusia, karenanya manusia harus menggunakannya untuk taat pada-Nya, mencari Ridha-Nya dan berjihad di jalan-Nya. Contohnya adalah amanah “mata”, Allah SWT berfirman:
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat. Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan-nya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya,” (QS. An-Nuur: 30-31)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaimana dia diciptakan, Dan langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan?” (QS. Al-Ghaashiyah: 17-20)

d. Amanah dalam menunaikan hak.
Hak itu ada dua macam:
i. Hak Allah.
Baik hak keyakinan, ucapan atau perbuatan. Dia adalah hak yang paling besar yang merupakan prioritas utama untuk ditunaikan, hak yang paling utama adalah hak tauhid, kemudian rukun-rukun Islam yang lain dan seluruh nikmat-nikmat Allah. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh,” (QS. Al-Ahzaab: 72)
Sahabat Ibnu Abbas, Imam Mujahid dan Ad-Dlohhak berkata:
 “Amanah Allah adalah seluruh kewajiban-kewajiban yang diwajibkan Allah.”

ii. Hak makhluk.
Di antaranya adalah hak harta, seperti utang, sewaan dan barang titipan. Hak makhluk yang lain adalah hak selain harta, seperti menjaga kehormatan, memberi nasihat, dll.

e. Amanah majelis.
Rasulullah SAW bersabda:
: قال الرسول: ” اَلْمَجْلِسُ بِالأَمَانَةِ إِلاَّ ثَلاَثَةٌ: مَجْلِسُ سَفْكِ دَمٍ حَرَامٍ، أَوْ فَرْجٍ حَرَامٍ، أَوْ اِقْتِطَاعِ مَالٍ بِغَيْرِ حَقٍّ”/ أبو داود وأحمد
Semua majelis itu merupakan amanah kecuali 3 hal. Yaitu majelis penumpahan darah, majelis hubungan badan yang diharamkan dan majelis pelanggaran terhadap harta orang lain. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)

f. Amanah keluarga.
Di antaranya adalah menunaikan kewajiban keluarga. Rasulullah SAW bersabda:
” كُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعْيَتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَالْمَرْأَةُ رَ
َاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ زَوْجِهَا وَوَلَدِهِ، فَكُلُّكُمْ رَاعِ وَكُلُّكُمْ مَسْؤُولٌ عَنْ رَعْيَتِهِ/ البخاري
Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban terhadap kepemimpinannya. Seorang lelaki menjadi pemimpin dalam keluarganya, seorang wanita menjadi pemimpin di rumah suami dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan diminta pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.” (HR. Bukhari)

g. Amanah kerja professional.
Rasulullah SAW bersabda:
: قال الرسول: “لِكُلِّ غَادِرٍ لِوَاءٌعِنْدَ إِسْتِهِ، يَرْفَعُ لَهُ بِقَدْرِ غُدْرَتِهِ، أَلاَ وَلاَ غَادِرَ أَعْظَمُ مِنْ أَمِيْرٍ عَامَهُ”/ البخاري
Setiap pengkhianat akan mendapatkan bendera di belakang (bokong). Panjang dan pendek bendera tersebut sesuai dengan kadar pengkhianatannya. Ketahuilah bahwa pengkhianatan yang paling besar adalah pengkhianatan seorang pemimpin terhadap rakyatnya. (HR. Bukhari)
h. Amanat kepemimpinan.
Kepemimpinan itu adalah amanat, Abu Dzar berkata:
قَالَ قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللهِ أَلاَ تَسْتَعْمِلْنِيْ؟ فَضَرَبَ بِيَدِهِ عَلَى مَنْكِبَيَّ ثُمَّ قَالَ : يَا أَباَ ذَرٍّ إِنَّكَ ضَعِيْفٌ وإَنَّهَا أَمَانَةٌ وَإِنَّهَا يَومَ الْقِيَامَةِ حِزْيٌ وَنَداَمَةٌ إِلاَّ مَنْ أَخَذَهَا بِحَقِّهَا وَأَدَى الَّذِى عَلَيْهِ فِيْهَا”/ مسلم
Wahai Rasulullah jadikanlah saya sebagai pemimpin, maka Rasulullah menepuk pundaknya sambil berkata: Wahai Abu Dzar, sesungguhnya engkau orang yang lemah dan kepemimpinan itu adalah amanah, dia di hari kiamat nanti merupakan penyesalan dan kesedihan, kecuali yang mengambilnya dengan haknya dan menunaikan semua kewajiban di dalamnya. (HR. Muslim)
Memberikan kepemimpinan kepada ahlinya juga merupakan amanah. Seorang sahabat bertanya: Kapan kiamat? Rasulullah SAW bersabda:
وَإِعْطَاءُ الْحُكْمِ إِلَى أَهْلِهِ أَمَانَةٌ : قَالَ الأَعْرَبِيْ: مَتَى السَّاعَةُ ؟ قَالَ إِذَا ضُيِّعَ الأَمَانَةُ فَانْتَظِرِ السَّاعَةُ، قاَلَ كَيْفَ إِضَاعَتِهَا ؟ فَقاَلَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرِ السَّاعَةُ”/ البخاري
Jika amanah telah disia-siakan, maka tunggulah hari kiamat. Sahabat bertanya: Disia-siakan yang bagaimana? Rasulullah bersabda: Jika urusan telah diserahkan kepada yang bukan ahlinya maka tunggulah hari kiamat.” (HR. Bukhari)
Dalam sebuah hadits yang lain Rasulullah SAW bersabda:
وقال” مَنْ اِسْتَعْمَلَ رَجُلاً عَلَى عِصَابَةٍ وَفِيْهِمْ مَنْ هُوَ أَرْضَى للهِ مِنْهُ فَقَدْ خَانَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَالْمُؤْمِنُوْنَ”/ الحاكم
Barangsiapa mengangkat pemimpin karena fanatisme golongan, padahal di sana ada orang yang lebih diridhai oleh Allah, maka dia telah berkhianat kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang mukmin. (HR. Hakim)

Nah bagaimanana dengan orang-orang yang khianat?
1. Khianat merupakan sifat dari orang munafik.
Rasulullah bersabda:
 قال الرسول: ” آية المنافق ثلاثة : إِذَا حَدَثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَحْلَفَ، وَإِذَا ائْتُمِنَ خَانَ/ متفق عليه
Tanda-tanda orang munafik ada 3. Jika berbicara berbohong, jika berjanji ingkar dan jika dipercaya berkhianat. (HR. Bukhari Muslim)
2. Dipermalukan di hari kiamat.
” فَكُلَّ غَادَرٍ لِوَاءٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يُقَالُ: هَذِهِ غُدْرَةُ فُلاَنٍ”/ متفق عليه
Setiap pengkhianatan akan mendapat bendera di hari kiamat, disebutkan ini pengkhianatan si fulan dan ini pengkhianatan si fulan. (HR. Bukhari Muslim)
3. Tidak disukai oleh Allah.
Allah SWT berfirman:
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berkhianat. (QS. 8:58)
Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman:
Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguh-nya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa, (QS. 4:107)
Dalam ayat yang lain Allah SWT juga berfirman:
Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat. (QS. Al-Hajj: 38)
4. Khianat merupakan sifat orang Yahudi
Allah SWT berfirman:
(Tetapi) karena mereka melanggar janjinya, Kami kutuk mereka, dan Kami jadikan hati mereka keras membatu. Mereka suka merubah perkataan (Allah) dari tempat-tempatnya, dan mereka (sengaja) melupakan sebagian dari apa yang mereka telah diperingatkan dengannya, dan kamu (Muhammad) senantiasa akan melihat pengkhianatan dari mereka kecuali sedikit di antara mereka (yang tidak berkhianat), maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik. (QS. 5:13)
5. Khianat adalah jalan menuju neraka.
Allah SWT berfirman:
Allah membuat istri Nuh dan istri Luth perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu tiada dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah; dan dikatakan (kepada keduanya); “Masuklah ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”. (QS. 66:10)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)