Kau tahu perasaan dingin. Dingin
menyayat itu seperti apa?
Pertemuan yang dibungkus dengan
skenario penuh liku. Aku Membisu, sekali
lagi bertemu tanpa kabar dan aku hanya bisa me-reka tiap pertemuan tak sengaja. Bagaimana rasanya bertemu dan menebak
perasaan orang lain? Jangan tanyakan itu. Itu sungguh sulit, apatah lagi dengan
kondisi pertemuan yang tiap kali sama. Tanpa tatap dan kata-kata, Datar. Kamu pun
tak bisa membaca isi kepala orang kan? Hari ini kita mungkin telah dipertemukan
entah keberapa kalinya oleh skenario indah- Nya..Memangnya aku bisa apa dari
pertemuan ini? Bahagia? Tidak. Sedih? Tidak
juga.
Karena aku cukup tahu diri bahwa kadangkala
pertemuan itu bukan berarti mempersatukan jarak. Bisa jadi hanya menyembuhkan
rindu yang telah lama menyesak didada. Itu mungkin rejeki dari Tuhan atas kesabaran
selama ini. Aku bahkan sudah menyugesti diriku sendiri agar jangan menumbuhkan
harapan terlalu tinggi, karena aku pun tak mau menyuburkan bunga-bunga yang kutanam
sendiri disini. Dihatiku.
Tapi biarpun alur ceritanya begitu tetap
sebuah keberuntungan-setidaknya untukku.
Ah, kita kadang lupa bahwa ada yang
menuliskan skenario indah ini di Langit sana. Tuhan tahu mana yang terbaik
untuk kita.
Kalau ada yang bertanya, sudah siap kah
dengan tangan yang menepuk-nepuk udara? Sudah siapkah dengan berita-berita
angin yang akan sampai mungkin sebentar lagi? Memangnya aku bisa apa?
Sejujurnya, aku belum siap jika itu
terjadi. Jika Tuhan berkehendak lain. Bahwa ternyata semua ini hanya
mimpi-mimpi ku belaka.
Aku hanya bisa pasrah, tak ada lagi yang
bisa aku usahakan selain berpasrah dan minta kekuatan dari Tuhan. Hanya itu. Jika itu terjadi bahwa ternyata
pertemuan itu adalah harapan-harapan yang ku tulis sendiri. Dengan sadar dan
ketulusan ini aku ingin berterima kasih,
Terima kasih telah menghadiahiku sebuah
pertemuan
Tuhan sentiasa bersamamu..
Pontianak, Ruang mimpi 27 Maret 2016

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ga ada manusia yang sempurna, silahkan berkomentar..Terima Kasih :)